EVALUASI RENDEMEN CPO DAN KERNEL TANDAN BUAH SEGAR PETANI DI PROPINSI BANTEN
Main Article Content
Abstract
Perkebunan kelapa sawit rakyat di Banten berkembang dan memberikan kontribusi dalam perekonomian petani. Namun, kendala petani sawit di Propinsi Banten adalah kepastian dalam tata niaga jual beli tandan buah segar (TBS) yang masih sangat tergantung pada perusahaan perkebunan besar, dimana petani menjual TBS hanya ke 2 pabrik kelapa sawit (PKS) yang terdapat di wilayah tersebut. Jika pengolahan di PKS terkendala maka tata niaga TBS petani terhambat sehingga petani menjual TBS kepada agen, yang kemudian dijual ke daerah lain di wilayah Lampung. Tidak hanya kepastian pengolahan di PKS, harga TBS juga menjadi masalah utama yang memberikan ketidakpastian dalam tata niaga TBS. Terlebih lagi di wilayah ini, belum diterapkannya penetapan harga TBS tingkat propinsi bagi petani yang bermitra dengan perusahaan. Untuk itu, dalam penerapan tata niaga TBS petani di Banten, perlu dievaluasi rendemen CPO dan kernel TBS petani, baik pada jenis buah Tenera dan Dura serta tingkat kematangan buah yaitu mentah dan matang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rendemen CPO dan kernel pada TBS jenis Tenera matang yang diambil dari kebun petani pada umur tanaman 3 – 30 tahun sebesar 18,88% dan 5,11%. Sementara itu, rendemen CPO dan kernel pada TBS petani di PKS jenis Tenera matang sebesar 18,86%; 5,43%, Tenera mentah 12,22%; 5,71%, Dura matang 14,31%; 5,96%, dan Dura mentah 8,46%; 5,46%. TBS yang diterima PKS dari petani masih ditemukan dalam kategori sangat mentah, yang mengandung rendemen CPO < 1%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya sosialisasi kepada para petani kelapa sawit, baik mitra maupun swadaya, mengenai perbaikan bahan tanaman dengan penggunaan bahan tanaman unggul dan pemanenan TBS yang matang dalam upaya peningkatan harga jual beli TBS.